Senin, 28 September 2015

BUDAYA MASSA DAN BUDAYA POPULER


Konten berita khas yang disalurkan melalui jaringan yang baru
diciptakan terhadap formasi sosial yang baru (massa audiens)
adalah pada awalnya merupakan bermacam-macam campuran cerita,
gambar-gambar atau image, informasi, ide-ide, hiburan dan
tontonan. Walaupun begitu, konsep pertama dari ‘Kultur massa’
umumnya digunakan untuk menunjukkan hal-hal tersebut (Lihat
Rosenberg and White,1957).

Kultur Massa, memiliki referensi yang luas tentang selera,
preferensi/pilihan, sikap/tingkah laku dan gaya/mode dari
kumpulan orang banyak (atau mayoritas). Tapi Kultur Massa
juga memiliki konotasi merendahkan secara umum, utamanya
dikarenakan oleh perkumpulan-perkumpulannya dengan yang
pilihan kulturalnya diasumsikan ‘tidak terdidik’, tanpa
diskriminasi atau hanya audiens kelas rendahan.

SUATU TAMPILAN MASYARAKAT YANG BAIK

“Paradigma dominan” (atau makna struktur yang dominan)
mengkombinasikan gambaran kekuatan media massa dalam suatu
komutas massa dengan tipikal praktek ilmu social melalui
penelitian, khususnya survey social, percobaan terhadap
psikologi social dan anailisis statistic.

Paradigma itu terkait baik dengan hasil dari serta arahan
terhadap penelitian komunikasi. Hal ini merupakan perkiraan
awal dari suatu jenis masyarakat tertentu yang baik secara
fungsional dan normal serta akan menjadi demokratis (pemilihan,
perwakilan, dan bersandar pada asa universal), liberal (sekuler,
keadaan pasar bebas, individualistis, kebebasan berbicara),
pluralistic (persaingan yang terlembaga antara partai dan
kepentingan) dan ketertiban (kedamaian, integrasi social,
keterbukaan, legitimasi).

KEMURNIAN DALAM ILMU DAN FUNGSIONALISASI INFORMASI

Unsur teoritis dari pradigma yang dominan tidak mencampuri kasus
dalam media massa tetapi mengambil alih secara luas dari sosiologi,
psikologi social dan pendapat yang dapat digunakan dalam ilmu
informasi. Hal ini terjadi terutama pada dekade pasca Perang Dunia
kedua ketika adanya keseragaman yang luas dan tidak mengandung
tantangan baik dalam hal ilmu social maupun mass media
(Tunstall, 1977).

Model komunitas yang digambarkan diatas terjadi juga pada
pertengahan abad pada saat nama Amerika Serikat berada dalam
kondisi ideal.

Ciri-ciri dari Kultur Massa:

1. Tidak tradisional
2. Bukan kalangan elit
3. Hasil dari orang banyak (massa)
4. Populer
5. Komersil
6. Dibuat Homogen

Pandangan Lain tentang Kultur Massa

Perkembangan dari kultur massa semakin terbuka untuk menghasilkan
lebih dari satu interpretasi. Bauman (1972) mengangkat isu bahwa
komunikasi massa yang disebabkan oleh kultur massa, beragumentasi
bahwa komunikasi massa dan kultur massa lebih dari sekedar alat
untuk membentuk sesuatu yang telah terjadi disetiap kasus sebagai
hasil dari peningkatan kultural homogen dari kumpulan masyarakat
secara nasional.

Dapat kita ingat bahwa budaya populer telah mengalami revisi nilai
secara luas oleh teori-teori sosial dan budaya serta pemutarbalikan
masalah yang sangat besar. Hal ini tidak lagi dipandang sebagai
ketidakorisinalitasan, kreatifitas atau manfaat dan sering
dirayakan karena arti dan maksudnya, signifikansi kebudayaan dan
nilai-nilai expresif.

Penilaian/Pengukuran Ulang Konsep Massa

Yang mungkin menjadi jelas saat ini adalah bahwa Media Massa banyak
berperan dalam memberikan solusi dalam permasalahan tersebut.
Dimanapun kita berada, siapapun kita, Media Massa menawarkan
jalan keluar menghadapi kelompok masyarakat skala besar, membentuk
kita menjadi kepekaan akan bahaya, serta memediasi hubungan kita
dengan tekanan-tekanan pihak yang lebih berkuasa.

KEBANGKITAN PARADIGMA DOMINAN UNTUK TEORI DAN PENELITIAN

Media dan masyarakat dan subkonsep dari ‘Massa, yang telah
dideskripsikan membantu membentuk model riset paradigma
Komunikasi Massa yang dijelaskan sebagai ‘dominan’.

Paradigma Dominan merupakan kombinasi dari gambaran kekuatan
media massa dalam masyarakatnya dengan ciri cirri dasar berasal
dari penelitian ilmu sosial, survey sosial, eksperimen psikologi
sosial, dan analisa statistikal.

Riset komunikasi pada masa sebelumnya, sangat dipengaruhi oleh ide/
gagasan bahwa liberal, pluralis dan masyarakat yang adil telah
terancam oleh pemikiran/sistem alternatif, yaitu bentuk
totalitarian (komunisme), dimana media massa didistorsi menjadi
alat untuk menekan demokrasi.

Dapat disimpulkan bahwa Paradigma Dominan dalam penelitian
komunikasi adalah sebagai berikut:

1. Masyarakat ideal Liberal-Pluralis
2. Pandangan Fungsionalis
3. Penyebaran linear model pengaruh
4. Media yang kuat dimodifikasi oleh hubungan kelompok
5. Media dilihat sebagai masalah sosial
6. Metode behavioris dan individualis

Sebuah Alternatif, Kritik Paradigma

Paradigma alternative dapat disimpulkan menjadi beberapa bentuk, yaitu:
1. Pandangan kritis masyarakat dan penolakan nilai netralitas
2. Penolakan atas model transmisi dari komunikasi
3. Ketidakpastian pandangan terhadap teknologi media dan berita/pesan
4. Penggunaan atas sebuah interpretasi dan pandangan konstruksionis
5. Metodologi kualitatif
6. Preferensi cultural atau teori-teori ekonomi politik
7. Kesadaran luas dengan ketidaksamaan dan sumber-sumber pemikiran
   oposisi dalam masyarakat

* Perbandingan Paradigma

Dua versi Utama paradigma dalam bab ini adalah Alternatif dan
Dominan Paradigma yang masing-masing membawa dua unsur yang berbeda,
yaitu Paradigma Alternatif membawa unsur Kritis dan Paradigma Dominan
membawa unsur Interpretatif atau kualitatif.

Perbandingannya menurut 2 orang tokoh adalah sbb:

a. Rosengen (1983):

1. Membedakan Pendekatan objektifitas dengan pendekatan Subjektifitas
2. Mempertentangkan antara Perubahan Radikal dengan Regulasi

b. Potter (1993) yang di sepakati oleh Fink & Ganz (1996):

1. Bagian ilmu sosial yang interpretative dan analisis kritis.
_________________________________________________________________
Cat :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar