Kamis, 29 Oktober 2015

Fiksi dan Seluk Beluknya

* Pemahaman Umum

Fiksi adalah sebuah Prosa naratif yang bersifat imajiner, meskipun
imajiner sebuah karya fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung
kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar
manusia.

Kebenaran dalam sebuah dunia fiksi adalah keyakinan yang sesuai
dengan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan.
Kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran
yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum,
moral, agama, logika, dan sebagainya.[1] Sesuatu yang tidak mungkin
terjadi bahkan dapat terjadi di dunia nyata dan benar di dunia fiksi.

Misalnya seorang perempuan yang membunuh seorang laki-laki yang
memperkosanya tetapi ia dinyatakan bebas dan tidak bersalah atas
kasus menghilangkannya nyawa seseorang-menurut hukum dunia nyata
ia harus tetap di hukum. Sebuah karya sastra haruslah memiliki
unsur intrinsik dan ekstrinsik.

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu
sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir
sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai
jika membaca sebuah karya sastra.[1] Unsur ekstrinsik ialah unsur
yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri, tetapi
mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.


* Genre Fiksi

Meskipun sebuah karya tergolong imajiner tetapi ia memiliki
golongan yang disebut Fiksi Non Fiksi (Nonfiction Fiction)
Sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya merupakan sebuah fakta.

Yang termaksud kedalam Fksi Non fiksi adalah :

Historical fiction, adalah fiksi yang dasar penulisannya merupakan
sejarah. Novel ini terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi
ini memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan
memberitakan pikiran dan peraaan tokoh lewat percakapan.

Sebagai contoh karya fiksi adalah Bendera Hitam dari kurasan
dan Tentara Islam di Tanah Galia karya Darji Zaidan.

Science fiction, adalah fiksi yang dasar penulisannya fakta
ilmu pengetahuan.[1] Sebagai contoh novel ini adalah 1984,
karya George Orwell.

Biographical fiction, adalah fiksi yang dasar penuliannya fiksi
biografis. Karya biografis juga memberikan ruang bagi fiksionalitas,
misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh penulis, di
samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog.

Sebagai contoh karya biografis adalah Bung Karno Penyambung
Lidah Rakyat karya Cindy Adams dan Kuantar Kau ke Gerbang dan
Tahta untuk Rakyat.

Sejarah Perkembangan Karya Fiksi di Indonesia

Pertama kali sebuah karya fiksi yang masuk ke Indonesia merupakan
karya novel terjemahan,masa ini dinamakan Sastra Melayu Lama sekitar
tahun 1870-an.[2] Pada tahun 1920 terbitlah karya sastra berupa prosa
seperti novel, cerpen, drama dan lain sebagainya.

Angkatan ini dikenal dengan Angkatan Balai Pustaka, karya karya
novelis Indonesia yang terkenal pada masa ini adalah Siti Nurbaya,
Salah Asuhan, dan Si Cebol Merindukan Bulan.

Pada masa berikutnya muncullah angkatan Pujangga Baru sebagai
reaksi keras atas banyak sensor oleh Penerbit Balai Pustaka.
Karya-karya yang terkenal pada masa ini adalah Tenggelamnya
Kapal Van der Wijck, Belenggu dan Di bawah Lindungan Ka'bah.
Lalu muncullah Angkatan '45, angkatan ini lebih realistik
dibanding angkatan sebelumnya. Sastrawan yang terkenal pada
masa ini adalah : Chairil Anwar, Idrus, dan Trisno Sumardjo.

Angkatan berikutnya adalah Angkatan 1950-1960. Ciri karya sastra
dari angkatan ini di dominasi oleh Cerpen dan Puisi.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan,
yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang
berkonsep sastra realisme-sosialis. Karya yang terkenal pada
masa ini adalah Mochtar Loebis, Ramadhan K.H, dan W.S. Rendra.

Dan berikutnya datanglah Angkatan 1966-1970 yang karya sastranya
menganut aliran surealis,arketipe dan absurd.[2] Sastrawan terkenal
pada masa ini adalah : Taufik Ismail, Umar Kayam, dan Titis Basino.

Kemudian pada dekade berikutnya karya sastra lebih di dominasi
oleh roman, angkatan ini dinamakan angkatan 1980-1990.

Sastrawan terkenal pada zaman ini adalah Nh. Dini dan Pipiet Senja.
dan berikutnya adalah Angkatan Reformasi. Pada masa ini banyaknya
karya sastra berupa Novel, Cerpen, dan Puisi yang bertemakan sosial
dan politik.[2] Dan terakhir adalah Angkatan 2000-an. Novelis
terkenal pada masa ini adalah Andrea Hirata.
_______________________________________
Cat :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar